Tools MikroTik RouterOS yang Paling Sering Digunakan untuk Monitoring dan Troubleshooting Jaringan
MikroTik RouterOS bukan hanya sistem operasi untuk mengatur routing, firewall, DHCP, NAT, VPN, dan bandwidth. Di dalamnya tersedia berbagai tools yang sangat membantu administrator jaringan dalam melakukan monitoring, analisis, pengujian, dan troubleshooting.
Dalam pekerjaan sehari-hari, masalah jaringan sering kali tidak dapat diselesaikan hanya dengan melihat konfigurasi. Administrator perlu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada jaringan.
Misalnya, pengguna mengeluh internet lambat. Pertanyaannya bukan sekadar “apakah bandwidth internet penuh?”, tetapi:
- Siapa yang menggunakan bandwidth terbesar?
- Interface mana yang mengalami trafik tinggi?
- Apakah packet loss terjadi?
- Apakah latency meningkat?
- Di mana jalur koneksi mengalami masalah?
- Apakah sebuah server benar-benar dapat diakses?
- Apakah terdapat paket tertentu yang menyebabkan masalah?
- Apakah resource router sedang terbebani?
Di sinilah tools MikroTik RouterOS menjadi sangat penting.
Dengan tools yang tepat, proses troubleshooting dapat berubah dari sekadar menebak menjadi proses analisis berbasis data.
Beberapa tools yang sangat sering digunakan antara lain Torch, Ping, Traceroute, Packet Sniffer, Bandwidth Test, Graphing, Log, Netwatch, IP Scan, dan Profile.
Artikel ini membahas fungsi masing-masing tools, kapan digunakan, contoh penerapan, serta kesalahan yang perlu dihindari.
Apa Itu Tools pada MikroTik RouterOS?
Tools pada MikroTik RouterOS merupakan sekumpulan utilitas yang digunakan untuk melakukan pengujian, monitoring, analisis, dan troubleshooting jaringan.
Secara sederhana, jika konfigurasi RouterOS adalah “cara router bekerja”, maka tools adalah “alat pemeriksaan” untuk mengetahui bagaimana router dan jaringan tersebut bekerja.
Contohnya:
Torch digunakan untuk melihat trafik secara real-time.
Ping digunakan untuk menguji konektivitas dan latency.
Traceroute digunakan untuk mengetahui jalur yang dilalui paket.
Packet Sniffer digunakan untuk menangkap paket agar dapat dianalisis lebih mendalam.
Netwatch digunakan untuk memonitor status host secara berkala.
Graphing digunakan untuk melihat penggunaan resource dan trafik dalam bentuk grafik.
Log digunakan untuk melihat berbagai kejadian yang dicatat oleh RouterOS.
Dengan memahami fungsi masing-masing tools, administrator dapat memilih alat yang tepat sesuai masalah yang sedang dihadapi.
1. Torch
Torch merupakan salah satu tools yang sangat populer di MikroTik RouterOS.
Fungsi utamanya adalah memonitor trafik jaringan secara real-time pada interface tertentu.
Torch dapat menampilkan informasi seperti:
- Source Address
- Destination Address
- Protocol
- Port
- MAC Address
- VLAN ID
- DSCP
- TX Rate
- RX Rate
Dengan Torch, administrator dapat mengetahui perangkat atau koneksi mana yang sedang menggunakan bandwidth besar.
Contoh kasus
Misalnya koneksi internet sekolah tiba-tiba lambat.
Administrator dapat membuka:
Tools → Torch
Kemudian memilih interface yang mengarah ke jaringan pengguna.
Dari sana administrator dapat melihat trafik yang sedang berlangsung.
Misalnya ditemukan satu perangkat dengan trafik download sangat tinggi.
Informasi tersebut dapat menjadi petunjuk awal untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Kapan menggunakan Torch?
Gunakan Torch ketika ingin:
- mencari sumber trafik tinggi
- mengetahui IP yang aktif menggunakan bandwidth
- melihat protocol yang digunakan
- memeriksa trafik pada interface
- melakukan troubleshooting bandwidth
Torch sangat cocok untuk investigasi awal karena memberikan gambaran kondisi trafik secara langsung.
2. Ping
Ping merupakan tools sederhana tetapi sangat penting.
Ping digunakan untuk menguji apakah sebuah host dapat dijangkau dan melihat karakteristik dasar koneksinya seperti latency dan packet loss.
Contoh:
/tool ping 192.168.10.1
Administrator juga dapat menguji koneksi ke server tertentu:
/tool ping 192.168.20.10
Atau menguji host internet:
/tool ping 8.8.8.8
Apa yang dapat diketahui dari Ping?
Ping dapat membantu menjawab:
- Apakah host dapat dijangkau?
- Berapa latency koneksinya?
- Apakah terdapat packet loss?
- Apakah koneksi stabil?
Namun perlu dipahami bahwa ping yang gagal tidak selalu berarti jaringan benar-benar putus.
Firewall pada host tujuan dapat memblokir ICMP.
Karena itu, hasil ping harus dibaca dalam konteks kondisi jaringan secara keseluruhan.
3. Traceroute
Traceroute digunakan untuk melihat jalur yang dilewati paket menuju sebuah tujuan.
Contohnya:
/tool traceroute 8.8.8.8
Output traceroute biasanya menunjukkan daftar hop yang dilewati paket.
Secara sederhana:
Router Lokal
↓
Gateway
↓
Router ISP
↓
Router Backbone
↓
Destination
Traceroute sangat berguna ketika koneksi ke sebuah tujuan mengalami masalah tetapi koneksi lokal terlihat normal.
Contoh kasus
Pengguna dapat mengakses server lokal, tetapi tidak dapat mengakses server tertentu di internet.
Ping mungkin memberikan informasi bahwa koneksi gagal.
Traceroute kemudian digunakan untuk mengetahui apakah masalah terjadi:
- di jaringan lokal
- pada gateway
- pada ISP
- pada jalur upstream
- atau mendekati jaringan tujuan
Traceroute tidak selalu menunjukkan penyebab secara pasti, tetapi dapat memberikan petunjuk lokasi masalah.
4. Packet Sniffer
Jika Torch memberikan gambaran trafik secara ringkas, Packet Sniffer memberikan kemampuan analisis paket yang jauh lebih mendalam.
Packet Sniffer dapat digunakan untuk menangkap paket yang melewati router sesuai filter yang ditentukan.
Contohnya administrator dapat melakukan filtering berdasarkan:
- interface
- IP address
- protocol
- port
- source
- destination
Hasil capture dapat disimpan dan dianalisis menggunakan aplikasi seperti Wireshark.
Contoh kasus
Sebuah aplikasi internal mengalami masalah koneksi.
Administrator ingin mengetahui apakah client benar-benar mengirim request ke server.
Packet Sniffer dapat digunakan untuk melihat:
Client
↓
TCP SYN
↓
Server
↓
TCP SYN/ACK
↓
Client
Jika SYN dikirim tetapi tidak mendapatkan respons yang sesuai, administrator memiliki data tambahan untuk melanjutkan investigasi.
Kapan menggunakan Packet Sniffer?
Gunakan ketika troubleshooting membutuhkan analisis paket secara mendalam.
Contohnya:
- masalah TCP connection
- masalah DNS
- masalah DHCP
- aplikasi tidak dapat terhubung
- komunikasi antar-server
- investigasi protokol
- analisis firewall
Packet Sniffer adalah tool yang sangat powerful, tetapi penggunaannya juga harus hati-hati karena capture paket dapat menghasilkan data dalam jumlah besar dan berpotensi mengandung informasi sensitif.
5. Bandwidth Test
Bandwidth Test digunakan untuk mengukur throughput antara perangkat MikroTik dengan endpoint yang mendukung bandwidth testing.
Tool ini berguna untuk mengetahui kapasitas koneksi dalam kondisi tertentu.
Contohnya administrator memiliki dua router:
MikroTik A
│
│ Link
│
MikroTik B
Bandwidth Test dapat digunakan untuk membantu menguji kemampuan link tersebut.
Hal penting
Bandwidth Test bukan sekadar alat untuk “mengecek berapa Mbps internet”.
Pengujian harus dilakukan dengan memahami topologi dan endpoint.
Bandwidth Test juga dapat menggunakan resource CPU dan bandwidth yang cukup besar. Pengujian yang dilakukan sembarangan pada jaringan produksi dapat mengganggu pengguna.
Karena itu, lakukan pengujian:
- pada waktu yang tepat
- dengan durasi yang terkontrol
- menggunakan target yang sesuai
- dengan mempertimbangkan beban router
Untuk pengujian link produksi, administrator perlu memastikan aktivitas test tidak mengganggu layanan yang sedang berjalan.
6. Graphing
Graphing digunakan untuk menyimpan dan menampilkan data monitoring dalam bentuk grafik.
Administrator dapat memanfaatkan graphing untuk melihat perubahan:
- CPU
- Memory
- Disk
- trafik interface
- trafik queue
Berbeda dengan Torch yang bersifat real-time, Graphing lebih berguna untuk melihat pola penggunaan dari waktu ke waktu.
Contoh kasus
Administrator mendapatkan laporan:
“Setiap pukul 10 pagi jaringan selalu lambat.”
Jika hanya menggunakan Torch, administrator mungkin harus menunggu sampai masalah muncul.
Dengan Graphing, administrator dapat melihat pola trafik sebelumnya.
Misalnya:
08:00 ███
09:00 █████
10:00 █████████████
11:00 ███████
12:00 █████
Dari pola tersebut dapat terlihat adanya peningkatan trafik pada jam tertentu.
Ini membantu proses capacity planning dan troubleshooting.
7. Log
Log merupakan salah satu sumber informasi paling penting ketika melakukan troubleshooting.
RouterOS mencatat berbagai kejadian yang dapat membantu administrator memahami apa yang terjadi pada perangkat.
Contohnya:
- login
- system event
- firewall
- DHCP
- routing
- VPN
- interface
- service
- error tertentu
Log sebaiknya tidak hanya dilihat ketika terjadi masalah.
Administrator dapat menggunakannya sebagai bagian dari monitoring dan audit.
Contoh troubleshooting
Misalnya VPN pengguna tiba-tiba tidak dapat terhubung.
Administrator dapat memeriksa log untuk melihat apakah terdapat:
- authentication failure
- connection attempt
- certificate issue
- timeout
- konfigurasi yang tidak sesuai
Dengan demikian troubleshooting menjadi lebih terarah.
8. Netwatch
Netwatch digunakan untuk memonitor status host atau layanan tertentu.
Pada RouterOS versi modern, Netwatch dapat melakukan probe terhadap host menggunakan beberapa jenis mekanisme, termasuk ICMP, TCP connection, HTTP/HTTPS GET, dan DNS, tergantung versi dan konfigurasi yang digunakan.
Netwatch juga dapat menjalankan script ketika status host berubah.
Contohnya:
Host UP
↓
Tidak melakukan apa-apa
Host DOWN
↓
Jalankan Script
↓
Kirim notifikasi
Contoh penggunaan
Administrator memiliki server:
192.168.30.10
Netwatch dapat digunakan untuk memantau server tersebut.
Ketika server tidak merespons, RouterOS dapat menjalankan tindakan otomatis sesuai script yang dikonfigurasi.
Contohnya:
- mencatat event
- menjalankan script
- mengirim notifikasi melalui mekanisme yang tersedia
- melakukan tindakan pemulihan tertentu
Netwatch sangat berguna untuk monitoring sederhana berbasis kondisi.
9. IP Scan
IP Scan membantu administrator menemukan perangkat yang aktif pada jaringan atau interface tertentu.
Tool ini berguna terutama ketika administrator ingin mendapatkan gambaran awal tentang perangkat yang terhubung.
Contohnya:
192.168.10.0/24
Administrator dapat melakukan scanning untuk mengetahui perangkat yang terdeteksi.
Informasi yang diperoleh dapat membantu proses inventarisasi awal.
Namun IP Scan bukan pengganti sistem asset management atau network discovery yang lebih lengkap.
10. Profile
Profile digunakan untuk melihat penggunaan resource CPU oleh proses-proses yang berjalan pada RouterOS.
Tool ini sangat berguna ketika router mengalami CPU usage tinggi.
Misalnya:
CPU Usage: 95%
Pertanyaan berikutnya:
“Proses apa yang menggunakan CPU?”
Profile membantu administrator menjawab pertanyaan tersebut.
Contoh proses yang mungkin terlihat berkaitan dengan:
- firewall
- routing
- queue
- management
- wireless
- scripting
- system process
Contoh kasus
Router mengalami CPU tinggi secara konsisten.
Administrator dapat melakukan:
/tool profile
Kemudian melihat proses mana yang menggunakan CPU secara dominan.
Informasi tersebut dapat digunakan untuk menentukan langkah troubleshooting berikutnya.
Perbandingan Tools MikroTik RouterOS
| Tool | Fungsi Utama | Cocok Untuk |
|---|---|---|
| Torch | Monitoring trafik real-time | Analisis bandwidth |
| Ping | Uji konektivitas | Connectivity test |
| Traceroute | Melihat jalur paket | Routing troubleshooting |
| Packet Sniffer | Capture paket | Analisis protokol |
| Bandwidth Test | Menguji throughput | Pengujian link |
| Graphing | Monitoring historis | Analisis tren |
| Log | Melihat event | Troubleshooting |
| Netwatch | Monitoring host | Monitoring otomatis |
| IP Scan | Discovery perangkat | Inventarisasi awal |
| Profile | Analisis CPU | Resource troubleshooting |
Materi Praktis: Metode Troubleshooting dengan Tools MikroTik
Salah satu kesalahan umum administrator jaringan adalah langsung menggunakan tool yang kompleks tanpa melakukan pemeriksaan dasar.
Gunakan pendekatan bertahap.
Tahap 1 — Periksa konektivitas
Mulai dengan Ping.
/tool ping 192.168.10.1
Jika berhasil, lanjutkan ke tujuan berikutnya.
Tahap 2 — Periksa jalur
Jika tujuan tidak dapat dijangkau, gunakan Traceroute.
/tool traceroute 8.8.8.8
Tujuannya untuk mengetahui di mana jalur koneksi mulai bermasalah.
Tahap 3 — Periksa trafik
Jika masalahnya adalah internet lambat, gunakan Torch.
Cari:
- source IP
- destination IP
- protocol
- TX
- RX
Dari sini dapat diketahui apakah terdapat perangkat atau trafik tertentu yang mendominasi interface.
Tahap 4 — Analisis paket
Jika masalah belum ditemukan, gunakan Packet Sniffer.
Gunakan filter agar capture tidak terlalu besar.
Misalnya fokus pada:
Source IP
Destination IP
TCP/UDP
Port tertentu
Setelah capture diperoleh, analisis menggunakan Wireshark jika diperlukan.
Tahap 5 — Periksa resource router
Jika router terasa lambat atau CPU tinggi, gunakan Profile.
Kemudian periksa:
CPU
Memory
Disk
Interface
Queue
Tujuannya adalah menemukan apakah masalah berasal dari konfigurasi, trafik, atau beban proses router.
Studi Kasus: Internet Sekolah Tiba-Tiba Lambat
Misalkan sebuah sekolah memiliki jaringan:
Internet
│
MikroTik
│
Switch
├── Guru
├── Siswa
├── Server
└── Access Point
Pukul 10:00 pengguna mengeluhkan internet sangat lambat.
Administrator dapat melakukan pendekatan berikut.
Langkah 1 — Ping gateway
Pastikan router dan gateway ISP masih dapat dijangkau.
Langkah 2 — Ping tujuan internet
Uji beberapa host untuk melihat apakah konektivitas keluar masih tersedia.
Langkah 3 — Torch
Periksa interface WAN.
Cari perangkat yang menghasilkan trafik besar.
Langkah 4 — Graphing
Bandingkan kondisi saat ini dengan grafik penggunaan sebelumnya.
Langkah 5 — Profile
Jika CPU router tinggi, periksa proses yang menggunakan resource.
Langkah 6 — Log
Periksa event penting yang muncul pada waktu terjadinya masalah.
Langkah 7 — Packet Sniffer
Jika masih belum jelas, lakukan packet capture dengan filter yang spesifik.
Dengan metode seperti ini, administrator tidak langsung mengubah konfigurasi tanpa mengetahui penyebab masalah.
Best Practice Menggunakan Tools MikroTik
1. Gunakan tools sesuai tujuan
Jangan menggunakan Packet Sniffer untuk masalah yang sebenarnya cukup diselesaikan dengan Ping.
Gunakan tool paling sederhana yang mampu menjawab pertanyaan troubleshooting.
2. Gunakan filter
Semakin besar jaringan, semakin penting penggunaan filter.
Daripada menangkap seluruh trafik, fokuskan pada:
IP tertentu
Port tertentu
Protocol tertentu
Interface tertentu
Hasil analisis akan jauh lebih mudah dibaca.
3. Jangan melakukan Bandwidth Test sembarangan
Bandwidth Test dapat menghasilkan trafik yang besar dan menggunakan resource router.
Lakukan pengujian dengan mempertimbangkan kondisi produksi.
4. Jangan menganggap ping sebagai satu-satunya indikator
Ping berhasil bukan berarti seluruh aplikasi pasti normal.
Sebuah server mungkin merespons ICMP tetapi service HTTP, HTTPS, DNS, SSH, atau database mengalami masalah.
Karena itu gunakan tools sesuai layer dan jenis masalah.
5. Kombinasikan beberapa tools
Troubleshooting yang baik biasanya tidak bergantung pada satu tools.
Contoh:
Ping
↓
Traceroute
↓
Torch
↓
Packet Sniffer
↓
Log
Setiap tool memberikan perspektif yang berbeda.
Kesalahan yang Sering Terjadi
1. Menggunakan Torch tanpa memahami interface
Torch bekerja berdasarkan trafik pada interface yang dipantau.
Jika administrator memilih interface yang salah, informasi yang diperoleh tidak akan sesuai kebutuhan.
Solusi
Pahami topologi terlebih dahulu.
2. Menganggap packet loss selalu berasal dari ISP
Packet loss dapat berasal dari banyak faktor.
Misalnya:
- kabel
- interface
- switch
- wireless
- router
- congestion
- firewall
- ISP
- destination host
Gunakan Ping, Traceroute, Log, dan tools lainnya untuk mempersempit kemungkinan.
3. Menjalankan Packet Sniffer tanpa filter
Capture terlalu besar akan menyulitkan analisis dan dapat menggunakan storage serta resource.
Solusi
Gunakan filter sedini mungkin.
4. Menggunakan Bandwidth Test pada jam sibuk
Pengujian throughput dapat menghasilkan trafik besar.
Jika dilakukan pada jam kerja tanpa perencanaan, pengujian justru dapat memperburuk pengalaman pengguna.
5. Mengabaikan log
Log sering kali memberikan petunjuk yang tidak terlihat dari konfigurasi.
Biasakan memeriksa log ketika terjadi masalah.
6. Mengubah konfigurasi sebelum menemukan penyebab
Ini merupakan salah satu kebiasaan yang berbahaya dalam troubleshooting.
Administrator melihat jaringan lambat, lalu langsung mengubah queue, firewall, routing, atau NAT.
Akibatnya masalah bisa semakin sulit dilacak.
Lebih baik:
Observe
↓
Measure
↓
Analyze
↓
Identify
↓
Change
↓
Verify
Tips Profesional Troubleshooting MikroTik
Gunakan pendekatan berbasis data.
Jangan hanya bertanya:
“Kenapa internet lambat?”
Ubah menjadi pertanyaan yang lebih spesifik:
“Interface mana yang mengalami peningkatan trafik?”
“IP mana yang menghasilkan trafik terbesar?”
“Apakah terjadi packet loss?”
“Di hop mana latency meningkat?”
“Apakah CPU router tinggi?”
“Apakah ada event tertentu pada log?”
“Apakah service tujuan merespons?”
Pertanyaan yang lebih spesifik menghasilkan proses troubleshooting yang lebih terarah.
Cheat Sheet Tools MikroTik
Untuk memudahkan mengingat:
PING
→ Apakah host bisa dijangkau?
TRACEROUTE
→ Lewat mana paket berjalan?
TORCH
→ Siapa yang menggunakan trafik?
PACKET SNIFFER
→ Paket apa yang sebenarnya terjadi?
BANDWIDTH TEST
→ Seberapa besar throughput link?
GRAPHING
→ Bagaimana kondisi jaringan dari waktu ke waktu?
LOG
→ Apa yang terjadi pada router?
NETWATCH
→ Apakah host/service masih tersedia?
IP SCAN
→ Perangkat apa yang terdeteksi?
PROFILE
→ Proses apa yang menggunakan CPU?
Jika memahami pola tersebut, administrator tidak perlu menghafal seluruh menu RouterOS sekaligus.
Yang lebih penting adalah memahami pertanyaan yang ingin dijawab.

Kesimpulan
MikroTik RouterOS menyediakan berbagai tools yang dapat membantu administrator melakukan monitoring, analisis, troubleshooting, dan pengelolaan jaringan.
Beberapa tools yang paling penting untuk dikuasai adalah:
- Torch untuk melihat trafik secara real-time.
- Ping untuk menguji konektivitas dan latency.
- Traceroute untuk menganalisis jalur paket.
- Packet Sniffer untuk melakukan analisis paket secara lebih mendalam.
- Bandwidth Test untuk menguji throughput antar-endpoint yang mendukung pengujian.
- Graphing untuk melihat tren penggunaan resource dan trafik.
- Log untuk menganalisis event pada router.
- Netwatch untuk monitoring host dan otomatisasi berbasis perubahan status.
- IP Scan untuk membantu discovery perangkat.
- Profile untuk mengetahui proses yang menggunakan CPU.
Tidak semua masalah jaringan membutuhkan tools yang kompleks.
Kunci troubleshooting yang baik adalah memilih tools berdasarkan pertanyaan yang ingin dijawab.
Mulailah dari pemeriksaan sederhana, kumpulkan data, analisis hasilnya, lakukan perubahan jika memang diperlukan, kemudian verifikasi kembali hasilnya.
Dengan pola tersebut, MikroTik tidak hanya menjadi perangkat routing, tetapi juga menjadi alat observasi dan troubleshooting jaringan yang sangat powerful.
Tools MikroTik mana yang paling sering kamu gunakan?
Apakah kamu lebih sering menggunakan Torch, Ping, Traceroute, Packet Sniffer, atau tools lainnya?
Bagikan pengalaman dan metode troubleshooting kamu di kolom komentar.
Jika artikel ini bermanfaat, bagikan kepada teman, siswa, teknisi jaringan, atau rekan IT yang sedang belajar MikroTik RouterOS.
Jangan lupa membaca artikel tutorial networking lainnya untuk memperdalam kemampuan administrasi jaringan, server, Linux, MikroTik, dan infrastruktur IT.
FAQ
Pertanyaan:
Apa tools MikroTik RouterOS yang paling sering digunakan?
Jawaban:
Beberapa tools yang umum digunakan adalah Torch, Ping, Traceroute, Packet Sniffer, Bandwidth Test, Graphing, Log, Netwatch, IP Scan, dan Profile.
Pertanyaan:
Apa fungsi Torch di MikroTik?
Jawaban:
Torch digunakan untuk melihat dan menganalisis trafik secara real-time pada interface, termasuk source, destination, protocol, port, serta TX/RX rate.
Pertanyaan:
Apa perbedaan Torch dan Packet Sniffer?
Jawaban:
Torch memberikan ringkasan trafik secara real-time, sedangkan Packet Sniffer menangkap paket untuk analisis yang lebih mendalam.
Pertanyaan:
Untuk apa Traceroute digunakan?
Jawaban:
Traceroute digunakan untuk melihat jalur atau hop yang dilewati paket menuju sebuah tujuan dan membantu menemukan lokasi gangguan pada jalur jaringan.
Pertanyaan:
Apakah Ping dapat digunakan untuk memastikan internet normal?
Jawaban:
Tidak sepenuhnya. Ping hanya menguji respons terhadap host tertentu. Service seperti DNS, HTTP, HTTPS, atau aplikasi dapat mengalami masalah meskipun ping berhasil.
Pertanyaan:
Apa fungsi Netwatch?
Jawaban:
Netwatch digunakan untuk memantau status host secara berkala dan dapat menjalankan tindakan atau script ketika kondisi host berubah.
Pertanyaan:
Kapan menggunakan Packet Sniffer?
Jawaban:
Gunakan Packet Sniffer ketika troubleshooting membutuhkan analisis paket, misalnya masalah TCP, DNS, DHCP, aplikasi, atau komunikasi antar-host.
Pertanyaan:
Apakah Bandwidth Test aman digunakan pada jaringan produksi?
Jawaban:
Bisa digunakan dengan perencanaan yang tepat, tetapi pengujian dapat menghasilkan trafik dan beban resource yang signifikan. Hindari pengujian sembarangan pada jam sibuk.
Sudah menguasai tools MikroTik RouterOS?
Mulai dari tools sederhana seperti Ping dan Torch, kemudian lanjutkan ke Traceroute, Packet Sniffer, Graphing, Netwatch, dan tools lainnya sesuai kebutuhan.
Bagikan artikel ini kepada teman, siswa, teknisi jaringan, network administrator, atau siapa saja yang sedang belajar MikroTik.
Tulis di kolom komentar: tools MikroTik apa yang paling sering kamu gunakan untuk troubleshooting jaringan?
Ikuti terus konten WALIDUMAR untuk tutorial MikroTik, Linux Server, Networking, Sysadmin, Cloud Computing, Cybersecurity, dan Infrastruktur IT.
Dukung kami dengan Subscribe & Join Membership channel YouTube | Walid Umar
Akses video pembelajaran eksklusif, materi persiapan UKK (Uji Kompetensi Siswa) dan Penyelesaian Soal LKS ITNSA