Juli 7, 2026
walidumar-48
Panduan lengkap membangun DNS Server Redundant menggunakan Bind9 di Ubuntu Server 26.04 LTS dengan konfigurasi Primary dan Secondary DNS.

Dalam sebuah infrastruktur jaringan modern, layanan DNS (Domain Name System) merupakan salah satu komponen paling penting. Hampir seluruh aktivitas jaringan bergantung pada DNS, mulai dari mengakses website, menghubungkan server aplikasi, mengakses email server, hingga komunikasi antar layanan internal perusahaan.

Bayangkan jika DNS Server utama mengalami gangguan. Seluruh layanan yang bergantung pada proses resolusi nama domain dapat berhenti berfungsi. Inilah alasan mengapa implementasi DNS Redundancy menjadi kebutuhan penting, baik pada lingkungan sekolah, laboratorium TKJ, perusahaan, maupun data center.

Pada artikel ini kita akan membahas cara membangun DNS Server Redundant menggunakan Bind9 pada Ubuntu Server 26.04 LTS “Resolute Raccoon” dengan skema Primary DNS dan Secondary DNS. Panduan ini disusun secara runtut sehingga mudah dipahami oleh siswa TKJ, peserta LKS IT Network System Administration (ITNSA), administrator jaringan pemula, maupun praktisi yang ingin memperkuat ketersediaan layanan DNS.


Apa Itu DNS Redundancy?

DNS Redundancy adalah teknik menyediakan lebih dari satu DNS Server untuk melayani permintaan resolusi nama domain.

Pada implementasi ini terdapat:

  • Primary DNS Server (Master DNS)
  • Secondary DNS Server (Slave DNS)

Primary DNS bertugas menyimpan dan mengelola data zona utama.

Secondary DNS bertugas menyimpan salinan otomatis dari zona Primary melalui mekanisme Zone Transfer.

Ketika Primary DNS mengalami kegagalan, Secondary DNS tetap dapat menjawab permintaan DNS sehingga layanan tetap berjalan.

Analogi Sederhana

Bayangkan sebuah perpustakaan memiliki satu buku master.

Jika buku master hilang atau rusak, semua informasi tidak bisa diakses.

Karena itu dibuat salinan identik yang ditempatkan di lokasi berbeda.

Saat buku utama tidak tersedia, salinan tersebut tetap dapat digunakan.

Konsep inilah yang diterapkan pada DNS Redundancy.


Arsitektur Topologi

DNS Primary

Hostname:

dns-primary.lab.local

IP Address:

192.168.10.10

DNS Secondary

Hostname:

dns-secondary.lab.local

IP Address:

192.168.10.11

Domain yang Digunakan

Forward Zone:

lab.local

Reverse Zone:

10.168.192.in-addr.arpa


Persiapan Sistem

Pastikan kedua server telah memiliki:

  • Ubuntu Server 26.04 LTS
  • IP Static
  • Koneksi jaringan aktif
  • Hak akses sudo
  • Sinkronisasi waktu menggunakan NTP

Update Sistem

Jalankan pada kedua server:

sudo apt update
sudo apt upgrade -y

Instalasi Bind9

Pada kedua server:

sudo apt install bind9 bind9-utils bind9-dnsutils -y

Verifikasi layanan:

systemctl status named

atau

systemctl status bind9

Pastikan status:

active (running)

Konfigurasi Primary DNS Server

Server:

192.168.10.10

Konfigurasi named.conf.local

Edit file:

sudo nano /etc/bind/named.conf.local

Tambahkan:

zone "lab.local" {
    type master;
    file "/etc/bind/db.lab.local";

    allow-transfer {
        192.168.10.11;
    };

    notify yes;
};

zone "10.168.192.in-addr.arpa" {
    type master;
    file "/etc/bind/db.192.168.10";

    allow-transfer {
        192.168.10.11;
    };

    notify yes;
};

Membuat Forward Lookup Zone

Salin template:

cd /etc/bind

sudo cp db.local db.lab.local

Edit:

sudo nano db.lab.local

Isi:

$TTL 86400

@   IN SOA dns-primary.lab.local. admin.lab.local. (
        2026070301
        3600
        1800
        604800
        86400
)

@               IN NS   dns-primary.lab.local.
@               IN NS   dns-secondary.lab.local.

dns-primary     IN A    192.168.10.10
dns-secondary   IN A    192.168.10.11

www             IN A    192.168.10.100
mail            IN A    192.168.10.101

@               IN MX 10 mail.lab.local.

Membuat Reverse Lookup Zone

Salin template:

sudo cp db.127 db.192.168.10

Edit:

sudo nano db.192.168.10

Isi:

$TTL 86400

@   IN SOA dns-primary.lab.local. admin.lab.local. (
        2026070301
        3600
        1800
        604800
        86400
)

@ IN NS dns-primary.lab.local.
@ IN NS dns-secondary.lab.local.

10 IN PTR dns-primary.lab.local.
11 IN PTR dns-secondary.lab.local.
100 IN PTR www.lab.local.
101 IN PTR mail.lab.local.

Validasi Konfigurasi Primary DNS

Periksa sintaks:

sudo named-checkconf

Periksa zona forward:

sudo named-checkzone lab.local /etc/bind/db.lab.local

Periksa zona reverse:

sudo named-checkzone 10.168.192.in-addr.arpa /etc/bind/db.192.168.10

Jika berhasil:

OK

Restart layanan:

sudo systemctl restart bind9

Konfigurasi Secondary DNS Server

Server:

192.168.10.11

Edit:

sudo nano /etc/bind/named.conf.local

Isi:

zone "lab.local" {
    type slave;
    masters {
        192.168.10.10;
    };

    file "/var/cache/bind/db.lab.local";
};

zone "10.168.192.in-addr.arpa" {
    type slave;

    masters {
        192.168.10.10;
    };

    file "/var/cache/bind/db.192.168.10";
};

Restart layanan:

sudo systemctl restart bind9

Memverifikasi Zone Transfer

Periksa apakah zona berhasil ditransfer:

ls -lah /var/cache/bind/

Harus muncul:

db.lab.local
db.192.168.10

Periksa log:

sudo journalctl -u bind9 -f

Cari pesan:

transfer of 'lab.local' from 192.168.10.10 completed

Pengujian DNS Forward Lookup

Dari client:

dig @192.168.10.10 www.lab.local

Output:

www.lab.local. IN A 192.168.10.100

Uji Secondary DNS:

dig @192.168.10.11 www.lab.local

Hasil harus sama.


Pengujian Reverse Lookup

Primary:

dig -x 192.168.10.100 @192.168.10.10

Secondary:

dig -x 192.168.10.100 @192.168.10.11

Output:

www.lab.local

Simulasi Failover DNS

Matikan Primary DNS:

sudo systemctl stop bind9

Kemudian lakukan pengujian:

dig @192.168.10.11 www.lab.local

Jika masih menghasilkan jawaban DNS yang valid, maka Secondary DNS berhasil berfungsi sebagai cadangan.


Memahami Parameter Penting pada SOA Record

Serial Number

2026070301

Menentukan versi zona.

Setiap perubahan data zona wajib menaikkan serial number.

Refresh

3600

Interval pengecekan perubahan oleh Secondary DNS.

Retry

1800

Waktu percobaan ulang jika gagal menghubungi Primary DNS.

Expire

604800

Batas waktu Secondary DNS menyimpan zona jika Primary tidak dapat dihubungi.

TTL

86400

Masa cache DNS.


Best Practice DNS Redundancy

Gunakan ACL

Batasi Zone Transfer hanya ke server tertentu.

Contoh:

acl trusted-slaves {
    192.168.10.11;
};

Pisahkan Lokasi Server

Idealnya Primary dan Secondary berada pada perangkat atau lokasi fisik berbeda.

Aktifkan Firewall

Buka hanya port yang diperlukan:

53/tcp
53/udp

Gunakan Monitoring

Gunakan:

  • Zabbix
  • Grafana
  • Prometheus
  • Icinga2

Untuk memantau kesehatan layanan DNS.

Backup Konfigurasi

Simpan backup:

/etc/bind/

secara berkala.


Kesalahan yang Sering Terjadi

Serial Number Tidak Dinaikkan

Penyebab:

Administrator lupa mengubah serial.

Dampak:

Secondary DNS tidak menerima update.

Solusi:

Naikkan serial setiap ada perubahan zona.


Zone Transfer Ditolak

Penyebab:

allow-transfer tidak dikonfigurasi.

Dampak:

Secondary gagal memperoleh salinan zona.

Solusi:

Pastikan IP Secondary tercantum pada allow-transfer.


Kesalahan Penulisan FQDN

Penyebab:

Lupa menambahkan titik (.) di akhir domain.

Dampak:

Resolusi nama menjadi salah.

Solusi:

Periksa seluruh FQDN pada file zona.


Firewall Memblokir DNS

Penyebab:

Port DNS tertutup.

Dampak:

Client tidak dapat melakukan query.

Solusi:

Buka port:

53/tcp
53/udp

Studi Kasus Implementasi di Laboratorium TKJ

Sebuah laboratorium TKJ memiliki:

  • 36 komputer client
  • 1 server web
  • 1 server mail
  • 1 server monitoring

Jika hanya terdapat satu DNS Server, maka seluruh layanan akan terganggu saat server DNS mengalami kerusakan.

Dengan menerapkan Primary dan Secondary DNS:

  • Resolusi nama tetap berjalan
  • Downtime berkurang
  • Infrastruktur lebih profesional
  • Siswa memahami konsep High Availability dasar

Konsep ini juga sering muncul pada kompetisi LKS ITNSA maupun implementasi jaringan perusahaan.


Kesimpulan

DNS merupakan layanan fundamental dalam jaringan komputer. Implementasi DNS Redundancy menggunakan Bind9 memungkinkan layanan tetap tersedia meskipun salah satu server mengalami gangguan.

Dengan membangun Primary DNS dan Secondary DNS pada Ubuntu Server 26.04 LTS, administrator dapat meningkatkan ketersediaan layanan, memperkuat keandalan infrastruktur, serta menerapkan praktik yang umum digunakan pada lingkungan enterprise.

Bagi siswa TKJ, peserta LKS ITNSA, maupun administrator jaringan pemula, memahami mekanisme Zone Transfer, SOA Record, Forward Lookup, dan Reverse Lookup merupakan fondasi penting sebelum mempelajari layanan jaringan yang lebih kompleks seperti Active Directory, Load Balancing, Cluster Services, maupun Cloud Infrastructure.

FAQ

Pertanyaan: Apa perbedaan Primary DNS dan Secondary DNS?
Jawaban: Primary DNS menyimpan data zona utama, sedangkan Secondary DNS menyimpan salinan otomatis melalui zone transfer.

Pertanyaan: Mengapa perlu menggunakan DNS Redundancy?
Jawaban: Untuk menjaga layanan DNS tetap tersedia ketika server utama mengalami gangguan.

Pertanyaan: Apa fungsi Zone Transfer?
Jawaban: Mengirim salinan data zona dari Primary DNS ke Secondary DNS secara otomatis.

Pertanyaan: Kapan Serial Number harus diubah?
Jawaban: Setiap kali terdapat perubahan pada file zona DNS.

Pertanyaan: Apakah Secondary DNS dapat menjawab query ketika Primary DNS mati?
Jawaban: Ya. Selama zona telah berhasil ditransfer sebelumnya, Secondary DNS tetap dapat melayani query DNS.

Pertanyaan: Port apa yang harus dibuka untuk layanan DNS?
Jawaban: Port 53 TCP dan 53 UDP.

Sudah mencoba membangun Primary dan Secondary DNS menggunakan Bind9 di Ubuntu Server 26.04 LTS?

Bagikan pengalaman, kendala, atau hasil implementasi Anda pada kolom komentar. Jika artikel ini bermanfaat, jangan ragu untuk membagikannya kepada rekan administrator jaringan, siswa TJKT/TKJ, maupun peserta LKS ITNSA. Kunjungi juga artikel lainnya seputar Linux Server, DNS, DHCP, Web Server, Cloud Computing, Cybersecurity, dan Infrastruktur Jaringan untuk meningkatkan kompetensi administrasi sistem dan jaringan secara bertahap.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dilindungi Oleh
Shield Security