Dalam sebuah infrastruktur jaringan modern, layanan DNS (Domain Name System) merupakan salah satu komponen paling penting. Hampir seluruh aktivitas jaringan bergantung pada DNS, mulai dari mengakses website, menghubungkan server aplikasi, mengakses email server, hingga komunikasi antar layanan internal perusahaan.
Bayangkan jika DNS Server utama mengalami gangguan. Seluruh layanan yang bergantung pada proses resolusi nama domain dapat berhenti berfungsi. Inilah alasan mengapa implementasi DNS Redundancy menjadi kebutuhan penting, baik pada lingkungan sekolah, laboratorium TKJ, perusahaan, maupun data center.
Pada artikel ini kita akan membahas cara membangun DNS Server Redundant menggunakan Bind9 pada Ubuntu Server 26.04 LTS “Resolute Raccoon” dengan skema Primary DNS dan Secondary DNS. Panduan ini disusun secara runtut sehingga mudah dipahami oleh siswa TKJ, peserta LKS IT Network System Administration (ITNSA), administrator jaringan pemula, maupun praktisi yang ingin memperkuat ketersediaan layanan DNS.
Apa Itu DNS Redundancy?
DNS Redundancy adalah teknik menyediakan lebih dari satu DNS Server untuk melayani permintaan resolusi nama domain.
Pada implementasi ini terdapat:
- Primary DNS Server (Master DNS)
- Secondary DNS Server (Slave DNS)
Primary DNS bertugas menyimpan dan mengelola data zona utama.
Secondary DNS bertugas menyimpan salinan otomatis dari zona Primary melalui mekanisme Zone Transfer.
Ketika Primary DNS mengalami kegagalan, Secondary DNS tetap dapat menjawab permintaan DNS sehingga layanan tetap berjalan.
Analogi Sederhana
Bayangkan sebuah perpustakaan memiliki satu buku master.
Jika buku master hilang atau rusak, semua informasi tidak bisa diakses.
Karena itu dibuat salinan identik yang ditempatkan di lokasi berbeda.
Saat buku utama tidak tersedia, salinan tersebut tetap dapat digunakan.
Konsep inilah yang diterapkan pada DNS Redundancy.
Arsitektur Topologi
DNS Primary
Hostname:
dns-primary.lab.local
IP Address:
192.168.10.10
DNS Secondary
Hostname:
dns-secondary.lab.local
IP Address:
192.168.10.11
Domain yang Digunakan
Forward Zone:
lab.local
Reverse Zone:
10.168.192.in-addr.arpa
Persiapan Sistem
Pastikan kedua server telah memiliki:
- Ubuntu Server 26.04 LTS
- IP Static
- Koneksi jaringan aktif
- Hak akses sudo
- Sinkronisasi waktu menggunakan NTP
Update Sistem
Jalankan pada kedua server:
sudo apt update
sudo apt upgrade -y
Instalasi Bind9
Pada kedua server:
sudo apt install bind9 bind9-utils bind9-dnsutils -y
Verifikasi layanan:
systemctl status named
atau
systemctl status bind9
Pastikan status:
active (running)
Konfigurasi Primary DNS Server
Server:
192.168.10.10
Konfigurasi named.conf.local
Edit file:
sudo nano /etc/bind/named.conf.local
Tambahkan:
zone "lab.local" {
type master;
file "/etc/bind/db.lab.local";
allow-transfer {
192.168.10.11;
};
notify yes;
};
zone "10.168.192.in-addr.arpa" {
type master;
file "/etc/bind/db.192.168.10";
allow-transfer {
192.168.10.11;
};
notify yes;
};
Membuat Forward Lookup Zone
Salin template:
cd /etc/bind
sudo cp db.local db.lab.local
Edit:
sudo nano db.lab.local
Isi:
$TTL 86400
@ IN SOA dns-primary.lab.local. admin.lab.local. (
2026070301
3600
1800
604800
86400
)
@ IN NS dns-primary.lab.local.
@ IN NS dns-secondary.lab.local.
dns-primary IN A 192.168.10.10
dns-secondary IN A 192.168.10.11
www IN A 192.168.10.100
mail IN A 192.168.10.101
@ IN MX 10 mail.lab.local.
Membuat Reverse Lookup Zone
Salin template:
sudo cp db.127 db.192.168.10
Edit:
sudo nano db.192.168.10
Isi:
$TTL 86400
@ IN SOA dns-primary.lab.local. admin.lab.local. (
2026070301
3600
1800
604800
86400
)
@ IN NS dns-primary.lab.local.
@ IN NS dns-secondary.lab.local.
10 IN PTR dns-primary.lab.local.
11 IN PTR dns-secondary.lab.local.
100 IN PTR www.lab.local.
101 IN PTR mail.lab.local.
Validasi Konfigurasi Primary DNS
Periksa sintaks:
sudo named-checkconf
Periksa zona forward:
sudo named-checkzone lab.local /etc/bind/db.lab.local
Periksa zona reverse:
sudo named-checkzone 10.168.192.in-addr.arpa /etc/bind/db.192.168.10
Jika berhasil:
OK
Restart layanan:
sudo systemctl restart bind9
Konfigurasi Secondary DNS Server
Server:
192.168.10.11
Edit:
sudo nano /etc/bind/named.conf.local
Isi:
zone "lab.local" {
type slave;
masters {
192.168.10.10;
};
file "/var/cache/bind/db.lab.local";
};
zone "10.168.192.in-addr.arpa" {
type slave;
masters {
192.168.10.10;
};
file "/var/cache/bind/db.192.168.10";
};
Restart layanan:
sudo systemctl restart bind9
Memverifikasi Zone Transfer
Periksa apakah zona berhasil ditransfer:
ls -lah /var/cache/bind/
Harus muncul:
db.lab.local
db.192.168.10
Periksa log:
sudo journalctl -u bind9 -f
Cari pesan:
transfer of 'lab.local' from 192.168.10.10 completed
Pengujian DNS Forward Lookup
Dari client:
dig @192.168.10.10 www.lab.local
Output:
www.lab.local. IN A 192.168.10.100
Uji Secondary DNS:
dig @192.168.10.11 www.lab.local
Hasil harus sama.
Pengujian Reverse Lookup
Primary:
dig -x 192.168.10.100 @192.168.10.10
Secondary:
dig -x 192.168.10.100 @192.168.10.11
Output:
www.lab.local
Simulasi Failover DNS
Matikan Primary DNS:
sudo systemctl stop bind9
Kemudian lakukan pengujian:
dig @192.168.10.11 www.lab.local
Jika masih menghasilkan jawaban DNS yang valid, maka Secondary DNS berhasil berfungsi sebagai cadangan.
Memahami Parameter Penting pada SOA Record
Serial Number
2026070301
Menentukan versi zona.
Setiap perubahan data zona wajib menaikkan serial number.
Refresh
3600
Interval pengecekan perubahan oleh Secondary DNS.
Retry
1800
Waktu percobaan ulang jika gagal menghubungi Primary DNS.
Expire
604800
Batas waktu Secondary DNS menyimpan zona jika Primary tidak dapat dihubungi.
TTL
86400
Masa cache DNS.
Best Practice DNS Redundancy
Gunakan ACL
Batasi Zone Transfer hanya ke server tertentu.
Contoh:
acl trusted-slaves {
192.168.10.11;
};
Pisahkan Lokasi Server
Idealnya Primary dan Secondary berada pada perangkat atau lokasi fisik berbeda.
Aktifkan Firewall
Buka hanya port yang diperlukan:
53/tcp
53/udp
Gunakan Monitoring
Gunakan:
- Zabbix
- Grafana
- Prometheus
- Icinga2
Untuk memantau kesehatan layanan DNS.
Backup Konfigurasi
Simpan backup:
/etc/bind/
secara berkala.
Kesalahan yang Sering Terjadi
Serial Number Tidak Dinaikkan
Penyebab:
Administrator lupa mengubah serial.
Dampak:
Secondary DNS tidak menerima update.
Solusi:
Naikkan serial setiap ada perubahan zona.
Zone Transfer Ditolak
Penyebab:
allow-transfer tidak dikonfigurasi.
Dampak:
Secondary gagal memperoleh salinan zona.
Solusi:
Pastikan IP Secondary tercantum pada allow-transfer.
Kesalahan Penulisan FQDN
Penyebab:
Lupa menambahkan titik (.) di akhir domain.
Dampak:
Resolusi nama menjadi salah.
Solusi:
Periksa seluruh FQDN pada file zona.
Firewall Memblokir DNS
Penyebab:
Port DNS tertutup.
Dampak:
Client tidak dapat melakukan query.
Solusi:
Buka port:
53/tcp
53/udp
Studi Kasus Implementasi di Laboratorium TKJ
Sebuah laboratorium TKJ memiliki:
- 36 komputer client
- 1 server web
- 1 server mail
- 1 server monitoring
Jika hanya terdapat satu DNS Server, maka seluruh layanan akan terganggu saat server DNS mengalami kerusakan.
Dengan menerapkan Primary dan Secondary DNS:
- Resolusi nama tetap berjalan
- Downtime berkurang
- Infrastruktur lebih profesional
- Siswa memahami konsep High Availability dasar
Konsep ini juga sering muncul pada kompetisi LKS ITNSA maupun implementasi jaringan perusahaan.

Kesimpulan
DNS merupakan layanan fundamental dalam jaringan komputer. Implementasi DNS Redundancy menggunakan Bind9 memungkinkan layanan tetap tersedia meskipun salah satu server mengalami gangguan.
Dengan membangun Primary DNS dan Secondary DNS pada Ubuntu Server 26.04 LTS, administrator dapat meningkatkan ketersediaan layanan, memperkuat keandalan infrastruktur, serta menerapkan praktik yang umum digunakan pada lingkungan enterprise.
Bagi siswa TKJ, peserta LKS ITNSA, maupun administrator jaringan pemula, memahami mekanisme Zone Transfer, SOA Record, Forward Lookup, dan Reverse Lookup merupakan fondasi penting sebelum mempelajari layanan jaringan yang lebih kompleks seperti Active Directory, Load Balancing, Cluster Services, maupun Cloud Infrastructure.
FAQ
Pertanyaan: Apa perbedaan Primary DNS dan Secondary DNS?
Jawaban: Primary DNS menyimpan data zona utama, sedangkan Secondary DNS menyimpan salinan otomatis melalui zone transfer.
Pertanyaan: Mengapa perlu menggunakan DNS Redundancy?
Jawaban: Untuk menjaga layanan DNS tetap tersedia ketika server utama mengalami gangguan.
Pertanyaan: Apa fungsi Zone Transfer?
Jawaban: Mengirim salinan data zona dari Primary DNS ke Secondary DNS secara otomatis.
Pertanyaan: Kapan Serial Number harus diubah?
Jawaban: Setiap kali terdapat perubahan pada file zona DNS.
Pertanyaan: Apakah Secondary DNS dapat menjawab query ketika Primary DNS mati?
Jawaban: Ya. Selama zona telah berhasil ditransfer sebelumnya, Secondary DNS tetap dapat melayani query DNS.
Pertanyaan: Port apa yang harus dibuka untuk layanan DNS?
Jawaban: Port 53 TCP dan 53 UDP.
Sudah mencoba membangun Primary dan Secondary DNS menggunakan Bind9 di Ubuntu Server 26.04 LTS?
Bagikan pengalaman, kendala, atau hasil implementasi Anda pada kolom komentar. Jika artikel ini bermanfaat, jangan ragu untuk membagikannya kepada rekan administrator jaringan, siswa TJKT/TKJ, maupun peserta LKS ITNSA. Kunjungi juga artikel lainnya seputar Linux Server, DNS, DHCP, Web Server, Cloud Computing, Cybersecurity, dan Infrastruktur Jaringan untuk meningkatkan kompetensi administrasi sistem dan jaringan secara bertahap.