Langsung ke konten
Linux

Perintah Troubleshooting Linux Debian Ubuntu yang Wajib Dikuasai Sysadmin

September 30, 2026 · 14 menit baca · Walid Umar

Mengelola server Linux bukan hanya tentang menjalankan perintah instalasi dan konfigurasi. Seorang system administrator atau sysadmin juga harus mampu mencari penyebab ketika server mengalami masalah.

Server tiba-tiba lambat? Website tidak bisa diakses? Service gagal berjalan? Disk penuh? RAM habis? Port tidak terbuka? DNS bermasalah?

Jangan langsung melakukan reboot.

Langkah pertama seorang sysadmin adalah melakukan diagnosis.

Pada Debian dan Ubuntu, tersedia banyak command-line tools yang dapat digunakan untuk melakukan troubleshooting secara sistematis. Dengan kombinasi beberapa perintah sederhana, kita bisa mengetahui kondisi CPU, RAM, storage, network, service, proses, koneksi, hingga log sistem.

Artikel ini membahas perintah troubleshooting Linux Debian Ubuntu yang penting untuk dikuasai, terutama bagi siswa TKJ/TJKT, system administrator, network administrator, DevOps engineer, dan siapa saja yang bekerja dengan server Linux.


Mengapa Troubleshooting Linux Harus Dilakukan Secara Sistematis?

Troubleshooting bukan sekadar mencoba berbagai command sampai masalah hilang.

Pendekatan yang lebih baik adalah:

Masalah
   ↓
Observasi
   ↓
Kumpulkan informasi
   ↓
Identifikasi gejala
   ↓
Cari kemungkinan penyebab
   ↓
Uji hipotesis
   ↓
Perbaiki
   ↓
Verifikasi

Misalnya pengguna melaporkan:

“Website server lambat.”

Kalimat tersebut belum menjelaskan penyebab.

Bisa saja masalahnya berasal dari:

  • CPU terlalu tinggi
  • RAM hampir habis
  • Disk penuh
  • I/O storage lambat
  • Database overload
  • Web server bermasalah
  • Network latency
  • DNS lambat
  • Terlalu banyak koneksi
  • Service tertentu mengalami error

Karena itu, jangan langsung menyimpulkan penyebab berdasarkan satu gejala.


1. uptime — Melihat Kondisi Server Secara Cepat

Perintah pertama yang bisa digunakan adalah:

uptime

Contoh:

15:20:10 up 25 days, 4:12, 2 users, load average: 0.85, 0.72, 0.61

Informasi tersebut menunjukkan:

  • waktu saat ini
  • lama server berjalan
  • jumlah user yang login
  • load average

Load average biasanya ditampilkan untuk periode:

1 menit
5 menit
15 menit

Untuk melihat informasi yang lebih lengkap:

uptime

atau:

w

uptime sangat berguna sebagai pemeriksaan awal sebelum masuk ke diagnosis yang lebih detail.


2. top — Melihat Proses dan Resource Secara Real-Time

Gunakan:

top

Perintah ini menampilkan informasi seperti:

  • CPU usage
  • memory usage
  • load average
  • proses aktif
  • PID
  • user
  • penggunaan CPU
  • penggunaan RAM

Jika ingin menggunakan interface yang lebih nyaman, Anda bisa memasang htop:

sudo apt install htop

Kemudian:

htop

htop sangat berguna ketika ingin melihat proses yang menggunakan resource paling besar.

Misalnya CPU mencapai 100%.

Jangan langsung reboot.

Cari proses yang menyebabkan CPU tinggi.


3. ps — Menganalisis Proses yang Berjalan

Perintah:

ps aux

menampilkan daftar proses yang berjalan.

Untuk mengurutkan berdasarkan penggunaan CPU:

ps aux --sort=-%cpu | head

Untuk melihat proses berdasarkan penggunaan RAM:

ps aux --sort=-%mem | head

Contoh troubleshooting:

ps aux --sort=-%cpu | head -10

Jika terlihat:

mysql
php-fpm
java
node
docker

menggunakan CPU tinggi, langkah berikutnya adalah melakukan investigasi terhadap service tersebut.


4. free — Mengecek Penggunaan RAM

Gunakan:

free -h

Contoh:

              total        used        free      shared  buff/cache   available
Mem:           15Gi        8Gi        1Gi        500Mi        6Gi        6Gi
Swap:           2Gi        100Mi      1.9Gi

Yang perlu diperhatikan adalah:

available

bukan hanya:

free

Linux menggunakan RAM untuk cache sehingga angka free yang kecil tidak otomatis berarti server kehabisan RAM.

Periksa juga swap:

swapon --show

Jika swap digunakan sangat tinggi, perlu dilakukan investigasi terhadap tekanan memory.


5. df — Mengecek Kapasitas Disk

Salah satu masalah klasik server Linux adalah:

Disk penuh.

Gunakan:

df -h

Contoh:

Filesystem      Size  Used Avail Use%
/dev/vda2        80G   76G  4G   95%

Jika penggunaan sudah mendekati 100%, service tertentu dapat mengalami masalah.

Cari filesystem yang penuh:

df -h

Kemudian periksa direktori besar:

sudo du -xh /var | sort -h | tail

Atau:

sudo du -xh /var/log | sort -h | tail

Direktori yang sering membesar antara lain:

/var/log
/var/lib
/var/cache
/var/lib/docker
/var/lib/mysql
/var/lib/postgresql

6. du — Mencari File atau Direktori yang Memboroskan Storage

Gunakan:

sudo du -sh /*

Untuk melihat isi /var:

sudo du -sh /var/*

Misalnya ditemukan:

2G  /var/log
15G /var/lib/docker
30G /var/lib/mysql

Sekarang troubleshooting menjadi lebih terarah.

Kita tidak lagi sekadar mengetahui bahwa disk penuh, tetapi sudah mengetahui lokasi penggunaan storage terbesar.


7. lsblk — Mengecek Disk dan Partition

Untuk melihat struktur disk:

lsblk

Gunakan:

lsblk -f

untuk melihat filesystem dan UUID.

Contoh:

NAME   FSTYPE FSVER LABEL UUID                                 MOUNTPOINTS
vda
├─vda1 ext4         ...                                        /boot
└─vda2 ext4         ...                                        /
vdb
└─vdb1 ext4         ...                                        /data

Command ini sangat berguna ketika:

  • disk baru ditambahkan
  • mount tidak muncul
  • partition bermasalah
  • filesystem ingin diperiksa

8. mount — Mengecek Mount Filesystem

Gunakan:

mount

Untuk melihat filesystem tertentu:

findmnt

Misalnya server memiliki storage /data.

Gunakan:

findmnt /data

Jika mount tidak tersedia, periksa:

cat /etc/fstab

Kesalahan konfigurasi /etc/fstab dapat menyebabkan masalah saat boot.


9. systemctl — Troubleshooting Service

Pada Debian dan Ubuntu modern, systemd digunakan untuk mengelola banyak service.

Melihat status service:

systemctl status nginx

Contoh:

systemctl status apache2

atau:

systemctl status ssh

Untuk melihat apakah service aktif:

systemctl is-active nginx

Untuk melihat apakah service diaktifkan saat boot:

systemctl is-enabled nginx

Restart service:

sudo systemctl restart nginx

Namun, sebelum restart service production, sebaiknya pahami penyebab masalah terlebih dahulu.


10. journalctl — Senjata Utama Membaca Log systemd

Jika service gagal, jangan hanya melihat:

systemctl status nginx

Lanjutkan dengan:

journalctl -u nginx

Untuk melihat log terbaru:

journalctl -u nginx -n 50

Untuk mengikuti log secara real-time:

journalctl -u nginx -f

Untuk log sejak boot terakhir:

journalctl -b

Untuk melihat error sejak boot:

journalctl -b -p err

Ini sangat penting dalam troubleshooting Linux.

Ketika service gagal, log sering kali memberikan petunjuk yang jauh lebih berguna daripada sekadar pesan:

Failed to start service

11. ss — Mengecek Port dan Koneksi Network

Untuk mengetahui port yang sedang listening:

sudo ss -tulpn

Contoh:

LISTEN 0 511 0.0.0.0:80
LISTEN 0 128 0.0.0.0:22
LISTEN 0 128 0.0.0.0:443

Artinya server memiliki service yang listening pada:

22  → SSH
80  → HTTP
443 → HTTPS

Jika aplikasi seharusnya berjalan pada port 8080 tetapi tidak terlihat dalam output ss, kemungkinan service belum berjalan atau aplikasi gagal melakukan bind ke port tersebut.

Untuk melihat koneksi TCP:

ss -tan

12. ip addr — Mengecek Konfigurasi Interface

Perintah:

ip addr

atau:

ip a

digunakan untuk melihat:

  • interface
  • MAC address
  • IPv4
  • IPv6
  • status interface

Contoh:

2: ens18: <BROADCAST,MULTICAST,UP,LOWER_UP>
    inet 192.168.10.20/24

Jika interface tidak memiliki IP yang seharusnya, troubleshooting harus dilanjutkan ke konfigurasi network.


13. ip route — Mengecek Routing

Gunakan:

ip route

Contoh:

default via 192.168.10.1 dev ens18
192.168.10.0/24 dev ens18 proto kernel scope link src 192.168.10.20

Perhatikan:

default via

karena default route menentukan gateway yang digunakan server untuk menuju jaringan lain.

Tes routing:

ip route get 8.8.8.8

Command ini sangat berguna pada server dengan multiple interface atau policy routing.


14. ping — Mengecek Konektivitas Dasar

Untuk menguji gateway:

ping -c 4 192.168.10.1

Kemudian coba:

ping -c 4 8.8.8.8

Jika IP bisa diping tetapi domain tidak:

ping -c 4 google.com

maka salah satu kemungkinan masalahnya adalah DNS.

Pola diagnosis sederhana:

ping gateway
      ↓
ping IP internet
      ↓
ping domain

Jika gateway gagal → periksa jaringan lokal.

Jika gateway berhasil tetapi IP internet gagal → periksa routing/firewall/WAN.

Jika IP internet berhasil tetapi domain gagal → periksa DNS.


15. resolvectl — Troubleshooting DNS

Pada sistem yang menggunakan systemd-resolved, gunakan:

resolvectl status

Untuk menguji resolusi DNS:

resolvectl query google.com

Alternatif lainnya:

dig google.com

Jika dig belum tersedia:

sudo apt install dnsutils

Kemudian:

dig google.com

Untuk melihat server DNS yang digunakan:

cat /etc/resolv.conf

Perlu diingat bahwa /etc/resolv.conf pada beberapa konfigurasi merupakan symlink atau dikelola oleh service tertentu, sehingga jangan sembarangan mengeditnya tanpa memahami mekanisme network management yang digunakan.


16. curl — Menguji Web Service dan HTTP

curl adalah salah satu tools favorit sysadmin.

Contoh:

curl http://localhost

Untuk melihat HTTP header:

curl -I http://localhost

Untuk HTTPS:

curl -I https://example.com

Untuk melihat proses koneksi secara detail:

curl -v https://example.com

curl sangat berguna untuk membedakan:

Network problem
vs
DNS problem
vs
HTTP problem
vs
Application problem

Misalnya:

curl http://127.0.0.1:8080

berhasil, tetapi:

curl http://192.168.10.20:8080

gagal.

Hal tersebut dapat mengarah pada pemeriksaan bind address, firewall, atau konfigurasi network.


17. wget — Alternatif untuk Pengujian HTTP

Contoh:

wget --spider https://example.com

atau:

wget -S --spider https://example.com

Tool ini berguna untuk pengujian sederhana konektivitas HTTP/HTTPS.


18. dmesg — Mengecek Pesan Kernel

Gunakan:

dmesg

Untuk melihat pesan terkait error:

dmesg --level=err,warn

Salah satu penggunaannya adalah mencari masalah:

  • hardware
  • disk
  • filesystem
  • network interface
  • kernel
  • driver

Misalnya:

dmesg | grep -i error

atau:

dmesg | grep -i memory

Pada sistem tertentu, akses terhadap dmesg dapat dibatasi oleh konfigurasi keamanan.


19. free, vmstat, dan iostat untuk Analisis Resource

Untuk melihat aktivitas sistem:

vmstat 1 5

Jika membutuhkan informasi I/O disk yang lebih detail, gunakan iostat.

Install:

sudo apt install sysstat

Kemudian:

iostat -xz 1

Perintah tersebut berguna ketika server terasa lambat tetapi penggunaan CPU tidak terlalu tinggi.

Bisa jadi bottleneck berada pada storage.


20. sar — Melihat Aktivitas Sistem

Setelah package sysstat tersedia, sar dapat digunakan untuk melihat statistik sistem.

Contoh:

sar -u

Untuk memory:

sar -r

Untuk network:

sar -n DEV

Tool ini sangat berguna ketika masalah terjadi secara periodik.

Misalnya server normal sekarang, tetapi pengguna melaporkan server sangat lambat setiap pukul 10.00.

Data historis dari monitoring sistem dapat membantu menemukan pola tersebut.


21. lsof — Mengetahui Siapa yang Menggunakan File atau Port

Untuk melihat proses yang menggunakan port:

sudo lsof -i :80

Contoh:

sudo lsof -i :443

Untuk mengetahui proses yang membuka file:

sudo lsof /var/log/syslog

Tool ini sangat berguna ketika muncul error seperti:

Address already in use

atau ketika file tidak bisa dilepas karena masih digunakan proses tertentu.


22. grep — Mencari Informasi di Dalam Log

Log server bisa berukuran sangat besar.

Jangan membaca semuanya.

Gunakan:

grep "error" /var/log/syslog

Abaikan case:

grep -i "error" /var/log/syslog

Cari beberapa pola:

grep -Ei "error|failed|warning" /var/log/syslog

Contoh lain:

grep -i "failed" /var/log/auth.log

Ini sangat berguna untuk menganalisis percobaan login SSH dan masalah autentikasi.


23. tail — Melihat Log Terbaru

Untuk melihat 50 baris terakhir:

tail -n 50 /var/log/syslog

Untuk mengikuti log secara real-time:

tail -f /var/log/syslog

Contoh:

tail -f /var/log/nginx/error.log

Kemudian lakukan request dari browser.

Anda dapat melihat error yang muncul secara langsung.

Ini merupakan teknik troubleshooting yang sangat efektif.


24. head — Melihat Bagian Awal File

Gunakan:

head /etc/nginx/nginx.conf

atau:

head -n 20 /var/log/syslog

Walaupun sederhana, head sangat berguna ketika digabungkan dengan pipeline.

Contoh:

ps aux --sort=-%cpu | head

25. sort dan uniq untuk Analisis Data

Misalnya ingin mengetahui IP yang paling sering muncul pada log:

awk '{print $1}' access.log | sort | uniq -c | sort -nr | head

Hasilnya bisa membantu mengidentifikasi IP dengan jumlah request tinggi.

Teknik seperti ini menjadi sangat berguna ketika melakukan troubleshooting web server dan security incident.


26. awk — Mengolah Output Command

Contoh:

df -h | awk '{print $1, $5, $6}'

Atau:

ss -tan | awk '{print $1}' | sort | uniq -c

awk sangat powerful untuk mengolah output command Linux.

Untuk sysadmin, kemampuan menggunakan kombinasi:

grep
awk
sed
sort
uniq
head
tail

akan meningkatkan kemampuan troubleshooting secara signifikan.


27. journalctl + systemctl: Kombinasi Wajib Sysadmin

Ketika service gagal:

systemctl status nginx

Kemudian:

journalctl -u nginx -n 100

Setelah memperbaiki konfigurasi:

sudo nginx -t

Jika konfigurasi valid:

sudo systemctl restart nginx

Kemudian verifikasi:

systemctl status nginx

Dan:

curl -I http://localhost

Perhatikan alurnya.

Jangan:

error
↓
restart
↓
restart
↓
reboot

Lebih baik:

error
↓
status
↓
log
↓
diagnosis
↓
perbaikan
↓
validasi
↓
restart jika diperlukan
↓
verifikasi

Studi Kasus 1: Website Tidak Bisa Diakses

Misalnya website:

https://server.example.com

tidak bisa diakses.

Jangan langsung menyimpulkan nginx bermasalah.

Lakukan diagnosis bertahap.

Langkah 1 — Cek service

systemctl status nginx

Langkah 2 — Cek port

sudo ss -tulpn | grep -E ':80|:443'

Langkah 3 — Test dari server

curl -I http://localhost

Langkah 4 — Test konfigurasi

sudo nginx -t

Langkah 5 — Cek log

sudo tail -n 50 /var/log/nginx/error.log

Langkah 6 — Cek firewall

Jika menggunakan UFW:

sudo ufw status

Langkah 7 — Cek DNS

dig server.example.com

Dengan metode ini, masalah bisa dipersempit secara sistematis.


Studi Kasus 2: Server Terasa Lambat

Mulai dengan:

uptime

Kemudian:

top

Lanjutkan:

free -h

Kemudian:

df -h

Periksa I/O:

iostat -xz 1

Periksa proses:

ps aux --sort=-%cpu | head

dan:

ps aux --sort=-%mem | head

Dengan kombinasi tersebut, kita dapat mengidentifikasi apakah bottleneck lebih mungkin berasal dari:

CPU
RAM
Disk
I/O
Process

Studi Kasus 3: Service Gagal Start

Misalnya:

sudo systemctl restart nginx

menghasilkan error.

Jangan terus mencoba restart.

Gunakan:

systemctl status nginx

Kemudian:

journalctl -u nginx -n 100

Validasi konfigurasi:

sudo nginx -t

Cek port:

sudo ss -tulpn | grep ':80'

Jika muncul:

Address already in use

gunakan:

sudo lsof -i :80

Sekarang kita dapat mengetahui proses mana yang menggunakan port tersebut.


Best Practice Troubleshooting Linux

Ada beberapa kebiasaan yang sebaiknya dibangun sejak awal.

Pertama, selalu kumpulkan informasi sebelum melakukan perubahan.

Kedua, ubah satu hal pada satu waktu. Jika lima konfigurasi diubah sekaligus dan masalah hilang, Anda akan kesulitan mengetahui perubahan mana yang sebenarnya memperbaiki masalah.

Ketiga, baca log.

Log adalah salah satu sumber informasi terpenting dalam administrasi server.

Keempat, dokumentasikan perubahan.

Contohnya:

25-09-2026 14:20
Problem: nginx gagal start
Cause: port 443 digunakan service lain
Action: menghentikan service konflik
Verification: nginx active, HTTPS normal

Dokumentasi sederhana seperti ini akan sangat membantu ketika server dikelola bersama tim.


Cheat Sheet Perintah Troubleshooting Linux

Berikut ringkasan command yang sebaiknya dikuasai:

# System
uptime
top
htop
ps aux
free -h

# Storage
df -h
du -sh /*
lsblk
findmnt

# Network
ip a
ip route
ping
ss -tulpn
curl
dig
resolvectl

# Service
systemctl status nginx
systemctl restart nginx
systemctl is-active nginx

# Log
journalctl -u nginx
journalctl -b -p err
tail -f /var/log/syslog

# Kernel
dmesg

# I/O
vmstat
iostat
sar

# Process/File
lsof
grep
awk
sort
uniq
head
tail

Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Troubleshooting

Langsung Reboot Server

Reboot kadang memang menyelesaikan masalah sementara, tetapi tidak menjelaskan penyebabnya.

Akibatnya masalah dapat muncul kembali.

Menghapus Log Secara Sembarangan

Ketika disk penuh, administrator terkadang langsung menghapus log tanpa memahami mekanisme log rotation.

Lebih baik identifikasi terlebih dahulu log mana yang membesar dan mengapa.

Mengubah Banyak Konfigurasi Sekaligus

Ini membuat proses diagnosis menjadi sulit.

Lakukan perubahan secara terukur.

Tidak Membaca Log

Kesalahan seperti:

Connection refused
Permission denied
Address already in use
No space left on device
Failed to start

biasanya memberikan petunjuk penting.

Tidak Melakukan Verifikasi

Setelah memperbaiki masalah, jangan berhenti pada:

systemctl restart nginx

Pastikan service benar-benar aktif:

systemctl is-active nginx

Kemudian uji aplikasinya:

curl -I http://localhost

Checklist Troubleshooting Sysadmin Linux

Ketika server bermasalah, gunakan checklist berikut:

[ ] Apakah server hidup?
[ ] Bagaimana load average?
[ ] Apakah CPU tinggi?
[ ] Apakah RAM cukup?
[ ] Apakah swap digunakan?
[ ] Apakah disk penuh?
[ ] Apakah filesystem ter-mount?
[ ] Apakah service aktif?
[ ] Apakah port listening?
[ ] Apakah interface network UP?
[ ] Apakah IP address benar?
[ ] Apakah routing benar?
[ ] Apakah DNS bekerja?
[ ] Apakah firewall mengizinkan traffic?
[ ] Apakah ada error di journal?
[ ] Apakah ada error pada application log?
[ ] Apakah masalah sudah terverifikasi setelah perbaikan?

Checklist seperti ini dapat dijadikan SOP sederhana untuk siswa TKJ/TJKT maupun administrator server.


Kesimpulan

Troubleshooting Linux bukan tentang menghafal sebanyak mungkin command.

Yang lebih penting adalah memahami hubungan antara command, gejala, dan kemungkinan penyebab masalah.

Beberapa command fundamental yang wajib dikuasai sysadmin Debian dan Ubuntu antara lain:

top / htop
ps
free
df
du
lsblk
systemctl
journalctl
ss
ip
ping
curl
dig
dmesg
lsof
grep
awk
iostat

Dengan command tersebut, administrator dapat melakukan pemeriksaan terhadap CPU, RAM, storage, proses, service, network, port, DNS, kernel, dan log.

Untuk siswa TKJ/TJKT, menguasai command-command ini juga merupakan fondasi penting sebelum masuk ke materi yang lebih lanjut seperti Docker, Kubernetes, DevOps, cloud computing, monitoring, cybersecurity, dan automation.

Intinya sederhana:

Jangan menebak.
Jangan langsung reboot.
Kumpulkan data.
Baca log.
Uji hipotesis.
Perbaiki.
Verifikasi.
Dokumentasikan.

Itulah pola pikir troubleshooting yang perlu dibangun oleh seorang sysadmin.

Tags WordPress

FAQ

Pertanyaan: Apa command Linux paling penting untuk troubleshooting server?

Jawaban: Beberapa yang paling penting adalah top, free, df, systemctl, journalctl, ss, ip, ping, curl, dan dmesg.

Pertanyaan: Bagaimana cara mengetahui apakah disk Linux penuh?

Jawaban: Gunakan df -h. Untuk mencari direktori yang menggunakan storage terbesar, gunakan du -sh pada direktori yang relevan.

Pertanyaan: Bagaimana cara melihat service yang gagal di Debian atau Ubuntu?

Jawaban: Gunakan systemctl status nama-service, kemudian periksa detail log dengan journalctl -u nama-service.

Pertanyaan: Bagaimana cara mengecek port yang sedang digunakan?

Jawaban: Gunakan sudo ss -tulpn. Anda juga dapat menggunakan sudo lsof -i :PORT untuk mengetahui proses yang menggunakan port tertentu.

Pertanyaan: Bagaimana cara troubleshooting server Linux yang lambat?

Jawaban: Periksa load dengan uptime, proses menggunakan top atau ps, RAM dengan free -h, storage dengan df -h, serta I/O menggunakan iostat.

Pertanyaan: Bagaimana cara mengetahui masalah DNS di Linux?

Jawaban: Gunakan resolvectl status, resolvectl query domain.com, atau dig domain.com untuk memeriksa konfigurasi dan resolusi DNS.

Pertanyaan: Apakah reboot merupakan solusi troubleshooting Linux?

Jawaban: Reboot dapat menyelesaikan kondisi tertentu, tetapi sebaiknya diagnosis dilakukan terlebih dahulu agar akar masalah diketahui dan tidak hanya hilang sementara.

Pertanyaan: Apakah command troubleshooting Debian dan Ubuntu sama?

Jawaban: Sebagian besar sama karena keduanya menggunakan banyak komponen GNU/Linux dan systemd yang sama. Namun, detail konfigurasi jaringan, paket, atau service dapat berbeda tergantung versi dan instalasi.

Server Linux bermasalah tidak selalu berarti waktunya reboot. Sering kali jawabannya sudah tersedia di terminal, service status, network socket, resource monitor, atau log sistem.

Mulailah membiasakan diri melakukan troubleshooting secara sistematis: cek kondisi server, kumpulkan informasi, baca log, identifikasi penyebab, lakukan perbaikan, lalu verifikasi hasilnya.

Jika artikel ini bermanfaat, bagikan kepada teman, siswa TKJ/TJKT, rekan sysadmin, network administrator, atau siapa saja yang sedang belajar Linux server.

Punya command troubleshooting Linux favorit atau pernah mengalami masalah server yang cukup unik? Tulis pengalaman dan command yang Anda gunakan di kolom komentar.

Jangan lupa ikuti konten berikutnya untuk tutorial Linux, Debian, Ubuntu Server, networking, MikroTik, Cisco, Docker, Proxmox, DevOps, cloud computing, cybersecurity, dan administrasi server.

Dukung kami dengan Subscribe & Join Membership channel YouTube | Walid Umar

Akses video pembelajaran eksklusif, materi persiapan UKK (Uji Kompetensi Siswa) dan Penyelesaian Soal LKS ITNSA

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dilindungi Oleh
Shield Security