JaringKita: Inovasi Guru dan Siswa Berbasis Python, Streamlit, Ollama, dan Qwen untuk Monitoring Jaringan Sekolah
Perkembangan teknologi jaringan komputer di lingkungan sekolah menghadirkan tantangan baru bagi administrator jaringan. Infrastruktur yang semakin kompleks, penggunaan banyak VLAN, kebutuhan akses antarsegmen, peningkatan jumlah perangkat, serta kebutuhan monitoring secara berkelanjutan membuat proses administrasi jaringan tidak lagi cukup dilakukan secara manual.
Di sisi lain, perkembangan Artificial Intelligence (AI) membuka peluang baru untuk membantu administrator memahami data jaringan secara lebih cepat dan sistematis.
Dari kebutuhan tersebut lahirlah sebuah ide inovasi bernama JaringKita.
JaringKita merupakan ide dan inovasi yang saya kembangkan bersama siswa sebagai bagian dari proses pembelajaran berbasis proyek. Konsep ini menggabungkan kompetensi jaringan komputer dengan pemrograman dan Artificial Intelligence untuk merancang sebuah dashboard monitoring jaringan sekolah yang mampu membantu proses analisis dan troubleshooting.
JaringKita mengangkat topik:
“JaringKita: Dashboard Monitoring Jaringan Berbasis Python, Streamlit, Ollama, dan Qwen untuk Analisis & Troubleshooting Jaringan Inter-VLAN Routing di Jaringan Sekolah.”
Dalam pengembangannya, saya berperan sebagai guru sekaligus pendamping yang mengarahkan proses perancangan, memberikan penguatan konsep jaringan, membantu siswa menganalisis kebutuhan sistem, serta mendampingi proses pengembangan inovasi.
Sementara itu, siswa terlibat langsung dalam proses eksplorasi, pengembangan, pengujian, dan penyempurnaan ide serta teknologi yang digunakan.
Dengan demikian, JaringKita bukan sekadar sebuah aplikasi.
JaringKita merupakan representasi dari proses pembelajaran ketika guru dan siswa bersama-sama mencoba mengubah permasalahan nyata menjadi sebuah ide solusi teknologi.
Dari Permasalahan Jaringan Menjadi Ide Inovasi
Dalam lingkungan sekolah, jaringan komputer memiliki peran yang sangat penting.
Jaringan digunakan untuk mendukung:
- pembelajaran;
- administrasi sekolah;
- laboratorium komputer;
- server;
- sistem informasi;
- perangkat guru;
- perangkat siswa;
- akses internet;
- dan berbagai layanan digital lainnya.
Ketika terjadi gangguan, administrator harus melakukan troubleshooting.
Pada jaringan sederhana, proses tersebut relatif mudah.
Namun ketika jaringan mulai menggunakan VLAN dan Inter-VLAN Routing, kompleksitasnya meningkat.
Sebagai contoh, jaringan sekolah dapat dibagi menjadi:
VLAN 10 untuk Guru.
VLAN 20 untuk Siswa.
VLAN 30 untuk pengguna umum.
Segmentasi tersebut memberikan manfaat dari sisi keamanan, pengelolaan, dan kebijakan akses.
Namun setiap segmentasi juga menambahkan komponen yang harus diperiksa ketika terjadi masalah.
Ketika seorang siswa pada VLAN 20 tidak dapat mengakses server pada VLAN 30, administrator harus mempertimbangkan banyak kemungkinan.
Apakah masalahnya berada pada IP address?
Apakah gateway salah?
Apakah VLAN tidak berjalan?
Apakah trunk bermasalah?
Apakah routing antar-VLAN gagal?
Apakah firewall memblokir koneksi?
Apakah service pada server tidak berjalan?
Atau apakah terdapat kesalahan konfigurasi lainnya?
Dari permasalahan seperti inilah ide JaringKita dikembangkan.
Kolaborasi Guru dan Siswa dalam Mengembangkan JaringKita
Salah satu hal yang menjadi bagian penting dari JaringKita adalah proses pengembangannya.
Inovasi ini tidak lahir hanya dari sisi guru dan tidak pula hanya dari sisi siswa.
JaringKita dikembangkan melalui proses kolaborasi.
Saya sebagai guru berperan dalam memberikan arahan, membangun konteks permasalahan, menghubungkan kebutuhan jaringan dengan konsep teknologi yang dipelajari, serta mendampingi siswa dalam proses pengembangan dan pengujian.
Sementara itu, siswa mendapatkan kesempatan untuk mengeksplorasi teknologi secara langsung.
Siswa tidak hanya belajar bagaimana melakukan konfigurasi MikroTik atau membuat VLAN.
Mereka juga diajak melihat permasalahan dari sudut pandang yang lebih luas:
“Bagaimana jika data jaringan yang kita miliki dapat diolah menjadi informasi yang membantu administrator mengambil keputusan?”
Pertanyaan sederhana tersebut kemudian berkembang menjadi gagasan untuk menggabungkan networking, programming, dashboard monitoring, dan AI.
Di sinilah proses pembelajaran mulai berubah menjadi proses inovasi.
JaringKita sebagai Project-Based Learning
Pengembangan JaringKita menjadi contoh bagaimana pembelajaran berbasis proyek dapat mengintegrasikan berbagai kompetensi.
Dalam satu proyek, siswa dapat mempelajari banyak hal sekaligus.
Dari sisi jaringan komputer, siswa mempelajari:
- IP addressing;
- subnetting;
- VLAN;
- trunk;
- Inter-VLAN Routing;
- DHCP;
- firewall;
- monitoring;
- diagnostic tools;
- dan troubleshooting.
Dari sisi pemrograman, siswa mempelajari:
- Python;
- pengolahan data;
- API;
- dashboard;
- integrasi aplikasi;
- dan struktur aplikasi.
Dari sisi Artificial Intelligence, siswa diperkenalkan pada:
- Large Language Model;
- Ollama;
- Qwen;
- AI-assisted analysis;
- prompt engineering;
- dan integrasi AI ke dalam aplikasi.
Semua kompetensi tersebut kemudian bertemu dalam satu ide.
Inilah yang membuat proses pengembangan JaringKita menjadi lebih dari sekadar membuat aplikasi.
Siswa belajar bagaimana sebuah teknologi dirancang berdasarkan kebutuhan nyata.
Apa Itu JaringKita?
JaringKita merupakan konsep dashboard monitoring jaringan berbasis Python dan Streamlit yang mengintegrasikan Ollama dan model AI Qwen sebagai AI Copilot.
Tujuannya adalah membantu administrator dalam:
- memonitor perangkat;
- melihat kondisi interface;
- memantau VLAN;
- melihat jumlah client;
- memantau bandwidth;
- melakukan diagnostic test;
- menganalisis log;
- memahami gejala gangguan;
- dan memperoleh rekomendasi troubleshooting.
Alur sederhananya:
Jaringan Sekolah
↓
Data Monitoring
↓
Diagnostic Tools
↓
Analisis Data
↓
Ollama + Qwen
↓
AI Recommendation
↓
Administrator
AI tidak mengambil alih administrator.
AI membantu administrator memahami data.
Arsitektur Inter-VLAN Routing
Konsep JaringKita dikembangkan dengan skenario jaringan sekolah yang menggunakan segmentasi VLAN.
Contoh arsitekturnya:
INTERNET
│
▼
MikroTik Router
Layer 3
│
TRUNK 802.1Q
│
▼
MikroTik Switch
Layer 2
┌────────────┼────────────┐
▼ ▼ ▼
VLAN 10 VLAN 20 VLAN 30
GURU SISWA UMUM
│ │ │
Client Client Client
Setiap VLAN mempunyai subnet dan kebijakan akses yang berbeda.
Contohnya:
- VLAN 10 — 192.168.10.0/24
- VLAN 20 — 192.168.20.0/24
- VLAN 30 — 192.168.30.0/24
Dalam kondisi seperti ini, administrator membutuhkan informasi yang lebih terintegrasi untuk mengetahui kondisi setiap segmen.

Peran Python dan Streamlit
Python menjadi salah satu teknologi utama yang digunakan dalam konsep pengembangan JaringKita.
Python dipilih karena memiliki ekosistem yang kuat untuk:
- network automation;
- API;
- data processing;
- monitoring;
- integrasi AI;
- dan pengembangan aplikasi.
Kemudian Streamlit digunakan untuk membangun dashboard.
Melalui dashboard tersebut, berbagai informasi jaringan dapat disajikan secara visual.
Dengan demikian, siswa tidak hanya belajar konfigurasi perangkat jaringan, tetapi juga belajar bagaimana membuat perangkat jaringan tersebut dapat dimonitor melalui aplikasi.
Peran Ollama dan Qwen
JaringKita memanfaatkan Ollama sebagai platform untuk menjalankan model AI secara lokal.
Sementara itu, Qwen digunakan sebagai model AI yang membantu melakukan analisis.
Keduanya menjadi komponen AI Copilot dalam konsep JaringKita.
Misalnya administrator mendapatkan hasil:
Source : VLAN 20
Destination : 192.168.30.10
Protocol : ICMP
Result : Timeout
Packet Loss : 100%
Data tersebut dapat diberikan kepada AI untuk membantu menganalisis kemungkinan penyebab.
AI dapat membantu mengidentifikasi beberapa kemungkinan:
- routing;
- firewall;
- gateway;
- VLAN;
- interface;
- service server;
- atau konfigurasi lainnya.
Administrator kemudian melakukan verifikasi.
Dengan pendekatan tersebut, AI tidak menggantikan kemampuan troubleshooting manusia.
AI justru membantu siswa dan administrator belajar membaca data dengan lebih terstruktur.
Contoh Kasus JaringKita
Bayangkan seorang siswa melaporkan:
“Pak, komputer saya tidak bisa mengakses server.”
Dalam troubleshooting konvensional, administrator mulai melakukan pemeriksaan.
Pertama, cek IP address.
Kemudian gateway.
Selanjutnya VLAN.
Setelah itu routing.
Kemudian firewall.
Lalu service server.
Proses tersebut bisa memerlukan beberapa tahap.
Dengan JaringKita, proses tersebut dapat dibuat lebih sistematis.
Administrator melihat dashboard.
Kemudian melakukan diagnostic test.
Misalnya hasilnya:
VLAN 20 → VLAN 30
ICMP : FAILED
TCP : FAILED
Data tersebut kemudian diberikan kepada AI Copilot.
AI membantu menyusun kemungkinan penyebab dan pemeriksaan berikutnya.
Administrator tetap melakukan validasi.
Jadi alurnya bukan:
AI → Eksekusi
Tetapi:
Data → AI Analysis → Recommendation → Human Verification → Action
Ini merupakan prinsip penting dalam desain JaringKita.

JaringKita Bukan Sekadar Teknologi AI
Salah satu hal yang ingin kami tunjukkan melalui JaringKita adalah bahwa AI tidak harus selalu digunakan untuk sesuatu yang spektakuler.
AI juga dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah sederhana tetapi nyata.
Administrator jaringan sekolah mungkin tidak membutuhkan AI untuk melakukan konfigurasi router secara otomatis.
Namun AI dapat sangat membantu ketika administrator harus memahami puluhan informasi teknis sekaligus.
Misalnya:
“Kenapa VLAN 20 tidak dapat mengakses server VLAN 30?”
Pertanyaan tersebut sederhana bagi manusia, tetapi jawabannya dapat melibatkan banyak komponen.
JaringKita mencoba menghadirkan AI sebagai alat bantu untuk menghubungkan berbagai informasi tersebut.
Proses Belajar di Balik Pengembangan JaringKita
Bagi saya sebagai guru, salah satu bagian paling penting dari proyek ini bukan hanya hasil akhirnya.
Proses belajar siswa justru menjadi bagian yang sangat berharga.
Siswa belajar bahwa membangun solusi teknologi membutuhkan:
- rasa ingin tahu;
- eksperimen;
- debugging;
- diskusi;
- pengujian;
- kegagalan;
- evaluasi;
- dan perbaikan.
Tidak semua percobaan langsung berhasil.
Ada konfigurasi yang perlu diperbaiki.
Ada kode yang harus di-debug.
Ada konsep yang harus dipelajari kembali.
Ada pula ide yang ternyata perlu disederhanakan.
Namun proses tersebut justru merupakan bagian dari pembelajaran.
Karena di dunia nyata, seorang network engineer maupun software developer juga tidak bekerja dengan prinsip “sekali coding langsung sempurna”.
Kadang yang sempurna hanya pesan error-nya. Kodenya masih perlu diperbaiki.
Guru sebagai Fasilitator, Siswa sebagai Pengembang
Dalam proyek ini, guru tidak hanya berperan sebagai pemberi materi.
Guru menjadi fasilitator yang membantu siswa menemukan hubungan antara teori dan permasalahan nyata.
Sementara siswa diberi ruang untuk mencoba, mengeksplorasi, mengembangkan, dan mempertanggungjawabkan ide mereka.
Pendekatan ini memberikan pengalaman yang berbeda.
Siswa tidak hanya menerima instruksi:
“Konfigurasikan VLAN.”
Tetapi mulai mendapatkan pertanyaan:
“Masalah apa yang dapat kita selesaikan dengan VLAN?”
Kemudian berkembang menjadi:
“Bagaimana kita dapat memonitor jaringan tersebut?”
Lalu:
“Bagaimana jika data monitoring dapat dianalisis menggunakan AI?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi bahan bakar lahirnya inovasi.
Potensi Pengembangan JaringKita
JaringKita masih merupakan ide inovasi yang memiliki ruang pengembangan yang sangat luas.
Ke depan, konsep ini dapat dikembangkan menjadi:
- automatic anomaly detection;
- network health score;
- real-time notification;
- AI log correlation;
- predictive monitoring;
- topology visualization;
- automated reporting;
- network knowledge base;
- intelligent alert;
- dan AI-assisted network automation.
Dengan pengembangan lebih lanjut, JaringKita dapat diarahkan menjadi platform monitoring jaringan sekolah yang semakin adaptif.
Namun prinsip dasarnya tetap sama:
Data digunakan untuk memahami jaringan.
AI digunakan untuk membantu menganalisis.
Administrator tetap mengambil keputusan.

Mengapa Kolaborasi Guru dan Siswa Penting?
Teknologi berkembang sangat cepat.
Apa yang dipelajari siswa hari ini dapat berubah beberapa tahun kemudian.
Karena itu, pendidikan tidak cukup hanya mengajarkan bagaimana menggunakan teknologi yang sudah tersedia.
Siswa juga perlu belajar bagaimana menciptakan solusi menggunakan teknologi.
Kolaborasi guru dan siswa memberikan ruang untuk hal tersebut.
Guru membawa pengalaman, konteks, dan arah pembelajaran.
Siswa membawa rasa ingin tahu, kreativitas, keberanian bereksperimen, dan perspektif generasi baru.
Ketika keduanya bertemu, pembelajaran dapat menghasilkan sesuatu yang lebih konkret.
JaringKita adalah salah satu contoh dari proses tersebut.
JaringKita dalam Seleksi OJM Tahap 2
JaringKita kami angkat sebagai ide dan inovasi pada Seleksi OJM Tahap 2.
Melalui topik ini, kami ingin menunjukkan bahwa kompetensi jaringan komputer yang dipelajari di SMK dapat dikembangkan lebih jauh dengan memanfaatkan teknologi pemrograman dan Artificial Intelligence.
Video presentasi untuk Seleksi OJM Tahap 2 telah kami unggah sebagai bagian dari proses tersebut.
Bagi kami, kesempatan ini bukan hanya tentang kompetisi.
Ini juga merupakan kesempatan untuk membawa hasil pembelajaran siswa ke dalam sebuah gagasan yang lebih luas.
Sebuah gagasan yang berangkat dari lingkungan sekolah, dari permasalahan jaringan yang nyata, kemudian dikembangkan menjadi konsep solusi berbasis teknologi.
Semoga proses dan ikhtiar yang telah kami lakukan dapat memberikan hasil terbaik dan JaringKita dapat melanjutkan perjalanan ke Seleksi OJM Tahap 3.

Kesimpulan
JaringKita merupakan ide inovasi yang dikembangkan melalui kolaborasi antara guru dan siswa dengan menggabungkan networking, programming, dan Artificial Intelligence.
Konsep ini menghadirkan dashboard monitoring jaringan berbasis Python dan Streamlit dengan integrasi Ollama dan Qwen sebagai AI Copilot untuk membantu analisis dan troubleshooting jaringan Inter-VLAN Routing di lingkungan sekolah.
Lebih dari sekadar teknologi, JaringKita merupakan gambaran proses pembelajaran berbasis proyek.
Siswa belajar memahami masalah.
Guru mendampingi prosesnya.
Teknologi menjadi alat untuk mencari solusi.
Dan sebuah ide sederhana kemudian berkembang menjadi inovasi.
Melalui JaringKita, kami ingin menunjukkan bahwa sekolah bukan hanya tempat untuk mempelajari teknologi.
Sekolah juga dapat menjadi tempat lahirnya teknologi dan inovasi.
“Dari pembelajaran, lahir ide. Dari kolaborasi, lahir inovasi. Dari sekolah, hadir solusi nyata.”

FAQ
Pertanyaan: Siapa yang mengembangkan JaringKita?
Jawaban: JaringKita dikembangkan melalui kolaborasi antara guru sebagai pendamping/fasilitator dan siswa sebagai bagian dari proses pengembangan inovasi.
Pertanyaan: Apakah JaringKita merupakan aplikasi yang sudah final?
Jawaban: JaringKita merupakan ide dan inovasi yang dikembangkan sebagai topik Seleksi OJM Tahap 2 dan memiliki peluang untuk terus dikembangkan menjadi solusi yang lebih matang.
Pertanyaan: Apa teknologi yang digunakan JaringKita?
Jawaban: Konsep JaringKita menggunakan Python, Streamlit, Ollama, dan model AI Qwen serta memanfaatkan konsep networking seperti VLAN dan Inter-VLAN Routing.
Pertanyaan: Apa peran siswa dalam pengembangan JaringKita?
Jawaban: Siswa terlibat dalam eksplorasi ide, pembelajaran teknologi, pengembangan, pengujian, dan penyempurnaan konsep JaringKita dengan pendampingan guru.
Pertanyaan: Apa peran guru dalam proyek JaringKita?
Jawaban: Guru berperan sebagai pendamping dan fasilitator yang memberikan arahan, penguatan konsep, konteks permasalahan, serta membantu siswa dalam proses pengembangan dan evaluasi inovasi.
Pertanyaan: Apa manfaat JaringKita?
Jawaban: JaringKita dirancang untuk membantu administrator memonitor kondisi jaringan, melakukan diagnostic test, menganalisis log, serta memperoleh bantuan AI dalam memahami kemungkinan penyebab masalah jaringan.
Pertanyaan: Mengapa menggunakan Ollama?
Jawaban: Ollama memungkinkan model AI dijalankan secara lokal sehingga membuka peluang pemrosesan data jaringan dalam lingkungan yang lebih terkendali.
Pertanyaan: Apakah JaringKita dapat menggantikan administrator jaringan?
Jawaban: Tidak. AI pada JaringKita diposisikan sebagai AI Copilot. Administrator tetap melakukan verifikasi, menentukan keputusan, dan melakukan tindakan teknis.

JaringKita bagi kami bukan sekadar sebuah nama atau aplikasi. JaringKita adalah hasil dari proses belajar, berdiskusi, mencoba, gagal, memperbaiki, dan kembali mencoba bersama siswa.
Saya sebagai guru berusaha memberikan arah dan pendampingan, sementara siswa mendapatkan ruang untuk mengeksplorasi teknologi dan mengembangkan ide mereka sendiri. Dari proses kolaborasi inilah lahir gagasan untuk menggabungkan networking, Python, Streamlit, Ollama, dan Qwen dalam sebuah inovasi untuk membantu permasalahan jaringan sekolah.
JaringKita kami bawa sebagai topik inovasi pada Seleksi OJM Tahap 2. Video presentasinya pun sudah kami unggah.
Semoga ikhtiar kami bersama siswa ini dapat memberikan hasil terbaik dan semoga JaringKita mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan perjalanan ke Seleksi OJM Tahap 3.
Jika Anda memiliki pengalaman, masukan, atau ide pengembangan untuk JaringKita, silakan tuliskan di kolom komentar. Mari berdiskusi dan berbagi gagasan tentang bagaimana jaringan komputer, AI, dan pembelajaran di SMK dapat terus dikembangkan menjadi solusi nyata.
Jangan lupa bagikan artikel ini kepada guru, siswa TKJ, network administrator, sysadmin, network engineer, maupun praktisi teknologi pendidikan lainnya.
Karena bagi kami, inovasi tidak selalu dimulai dari laboratorium besar.
Kadang inovasi dimulai dari sebuah permasalahan sederhana di sekolah, sebuah pertanyaan dari siswa, dan seorang guru yang bersedia mengatakan:
“Coba kita cari tahu, apakah kita bisa membuat solusinya sendiri?”
Dukung kami dengan Subscribe & Join Membership channel YouTube | Walid Umar
Akses video pembelajaran eksklusif, materi persiapan UKK (Uji Kompetensi Siswa) dan Penyelesaian Soal LKS ITNSA